Info Sekolah
Wednesday, 19 Jun 2024
  • Selamat Datang di Website Resmi SMAN 3 Borong
6 February 2024

Pemilihan Umum:  Memberi Pekerjaan Kepada Segelintir Orang

Tuesday, 6 February 2024 Kategori : Artikel

Vinsensius Nurdin

https://sman3borong.sch.idPada masa belakangan ini, kita semua mengalami suatu pergeseran dinamika kemasyarakatan pada umumnya yang  mana kita semua ditempatkan sebagai dipertuanagungkan atau sebagai diperhambasahayakan. Istilah pertama menunjuk kepada kelompok masyarakat kebanyakan yang dipertuanagungkan oleh beberapa orang yang sering menghambasahayakan dirinya untuk menggaet perhatian. Untuk menarik minat dan menimbukan  simpati. Para hambasahaya politik ini mendekati sasaran masyarakat komunal dengan berbagai trik yang dianggap mampu mendongkel minat dan mencungkil perhatian massa.

Perhatian pada kedua massa ini pada akhir-akhir ini sungguh menyita jiwa perpolitikan kita. Geliat fisik dan jiwa tampak sungguh terasa dalam pergumulan yang sering kita alami baik sebagai dipertuanagungkan maupun sebagai diperhambasahayakan. Kedua istilah ini mungkin dirasa terlalu berlebihan ketika kita mencoba sedetik saja berpura-pura moralis di tengah geliat politik yang terus berkecamuk dalam peredaran waktu kekinian. Ada sebagaian dari dinding politik kita yang retak di tengak berkecamuknya puting beliung percaturan politik kita. Mau tida mau, suka tidak suka sambil menikuti beberapa anggapan sementara orang bahwa dalam politik, segala sesuatu bisa terjadi. Apa saja. Perubahan warna dianggap hal biasa dan bukanlah pertentangan yang mutlak. Bunglon dalam percaturan politik adalah salah satu cara menghunjukan kemungkinan dalam pertahanan politik.

Kembali kepada dua kelompok sebagaimana yang saya namakan sebagai dipertuanagungkan dansebagai dihambasahayakan. Saya tidak mengatakan kedua kelompok rentan ini dengan namanya sesuatu yang negatif atau pesimistik, tetapi kalau kita mau selisik lebih ke kedalaman, kita akan tahu seberapa kuatnya dinamika kedua kelompok ini meletup di saat-saat menjelang pemilihan petugas negara atau pejabat pemerintahan.  Pada suatu kesempatan dalam salah satu perbincangan dengan beberapa rekan, di tengah keras dan lunaknya posisi memertahankan beberapa kandidat pemimpin melalui diskursus politik, saya sempat melontarkan kalimat ini:  kita semua sedang sibuk berjuang memberi peluang pekerjaan kepada beberapa penganggur politik, kita memberi mereka pekerjaan. Ketika pernyataan yang tampaknya konyol ini saya ucapkan sebagai sanggahan atau penyeimbag di tengak ketegangan perdebatan, rupanya tidak digubris. Perhatian utama tersedot ke dalam kancah perpolitikan yang sesuai dengan cara pandang orang perorangan dan mungkin bagi saya sendiri, lalai untuk meragkumnya dalam usaha memperoleh pekerjaan. Apa pun dan siapaun kita yang melaksanakan seuatu di bawah bayang-bayang percaturan politik sering sungkan mengatakan bahwa ini adalah salah satu pekerjaan untuk dapat sesuap nasi dan seteguk air. Saya terpaksa agak sedikit puitis.

Kealpaan melihat apa yang sebenarnya yang terjadi, membuat kita terlena dan terkesima sehingga melupakan esensi yang sebenarnya dari usaha kita semua dalam pemilihan pemimpin sebagaimana yang kita lakukan akhir-akhir ini. Kealpaan yang saya maksud di sini adalah tersedotnya perhatian sebagian besar massa pada kandidat tertentu dengan pengagungan yang berlebihan sampai  pada taraf sulit diperbandingkan. Ada segelintir massa pendukung salah satu kandidat dengan diusung oleh partai tertentu sampai melakukan aksinya yang sulit dipahami semisal menjadi agen rahasia penyebar uang politik. Hal ini semakin diperparah ketika aksi ini dilegitimasi sebagai yang biasa terjadi dan hal wajar. Seburuk itukah cara kita memperlakukan percaturan politik kita.

Pengalaman perpolitikan kita telah menepikan idealisme politik dalam kata yang sebenarnya. Adanya usaha senyap dami terciptanya ruang kedap suara dalam melanggengkan intrik politik demi prestise minus prestasi. Cara gesekan di ruang rahasia beberapa kelangan tertentu telah lama berurat akar dalam kazanah budaya politik kita. Dalam beberapa hitingan saja kita semua akan tahu siapa yang akan memperoleh pekerjaan sebagai petugas negara dalam bingkai drama kolosal dengan judul DEMI KESEJAHTERAAN RAKYAT. Akan muncul wajah-wajah baru atau wajah-wajah lama dengan ayat-ayat ampuhnya sebagai pelindung, pengayom, penyelenggara kehidupan berbagsa dan bernegara. Di luar bungkusan itu, sering sekali dilupakan suatu fakta bahwa mereka yang akan duduk di tempat itu karena pemilihan adalah kumpulan para pencari pekerjaan yang sudah merasa lega karena sudah mendaptkannya. Dalam senyum yang beku terselip nada di bibir “aku tidak menganggur lagi”.

Dengan cara ini saya sebenarnya tidak sedang menegasi beberapa lembaga Negara yang keberadaanya tergantung kepada pemilihan. Penekanan saya terutama ada dalam tegangan yang sungguh terasa tatkala apa yang diperjuangkan per hari ini hanya suatu rutinitas politik belaka tanpa bercadarkan kesadaran mumpuni akan perubahan hidup masyarakat. Tampang perpolitikan kita yang bersandar pada kekuatan politik sebagaimana yang kita jalani saat ini harus menjadi demonstrasi tanpa henti untuk menyuarakan sensibilitas politik sebagaimana seharusnya. Apa yang seharusnya adalah penempatan manusia yang berpolitik dalam kancah peradaban manusia yang manusiawi. Politik demi mamanusiakan manusia Indonesia telah memiliki pedoman yang sungguh mulia melalui Pedoman Butir-Butir Pancasila. Pancasila harus terus menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Peradaban manusia melalui beberapa tahap aktivitas dalam kepelbagaian  cara dan sarana yang ada telah menunjukan kepada manusia betapa panorama hidup berperan serta dalam menjamah peradaban. Pembekalan politik melalui beberapa perode sejarah bangsa ini telah menjadikan kita sadar akan dinamika hidup politik manusia Indonesia. Ada saja saatnya pada mana hentakan tertentu dianggap menjadi model dalam suatu peradaban. Hentakan massa seperti sekarang ini sulit diprediksi sedemikian rupa sehingga agak sulit mematoknya sebagai suatu stensilan utuh tanpa perbaikan. Kesulitan memprediksi suatu takaran tertentu dianggap bukanlah suatu kegagalan, tetapi menjadi peluang untuk tetap maju dan bertahan dalam percaturan yang sedang berlangsung. Berangkas harta karun yang hanya dapat dibuka dengan sidik jari orang tertentu dianggap hanyalah ceritera hayalan dalam pergumulan politik hari ini. Semua orang memiliki akses untuk dapat masuk ke dalam labirin politik . Dengan tanpa pengecualian ini, labirin yang dipenuhi orang-orang yang berlari kian kemari demi menemukan jalan keluar adalah kumpulan manusia berambisi yang terkadang hanya berlari kian kemari karena melihat orang lain melakukannya. Pecaturan politik tanpa Tanya dan hanya menjadi ajang pencarian kerja kian menjejal dalam kancah bumi Indonesia. Resultantenya menjadi mudah diprediksi ketika kita sedikit meluangkan waktu untuk memedulikannya.

No Comments

Tinggalkan Komentar

 

Agenda

23
Jul 2023
waktu : 08:00
23
Jul 2023
waktu : 08:30
08
Aug 2022

Info Sekolah

SMAN 3 BORONG

NSPN : 50309258
JAWANG, Golo Kantar, Kec. Borong, Kab. Manggarai Timur Prov. Nusa Tenggara Timur
TELEPON 082145071833
EMAIL smantigaborong@gmail.com
WHATSAPP +62-82145071833